TUGAS MANDIRI 14 (YANICA JEANNURI VIRCANANDA E-29)

Bagi saya, integritas adalah tentang kesesuaian antara apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Kejujuran menjadi inti dari integritas itu sendiri. Sebagai mahasiswa, integritas bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga tentang proses yang dijalani untuk memperoleh nilai tersebut. Dunia kampus adalah tempat awal pembentukan karakter, sehingga apa yang saya biasakan selama kuliah akan sangat memengaruhi sikap saya di dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat nantinya. Karena itu, integritas menurut saya menjadi hal yang krusial dan tidak bisa ditawar bagi seorang mahasiswa.

Dalam konteks akademik, kejujuran sering kali diuji dalam situasi yang terlihat sepele, tetapi sebenarnya berdampak besar. Godaan untuk melakukan plagiarisme, titip absen, atau bekerja sama saat ujian bukanlah hal asing di lingkungan kampus. Saya sendiri pernah berada di posisi dilema ketika tenggat tugas semakin dekat, sementara waktu dan tenaga terasa sangat terbatas. Ada saat di mana saya tergoda untuk sekadar menyalin referensi tanpa mencantumkan sumber secara benar, dengan alasan hampir semua orang melakukannya dan risikonya kecil. Namun, di titik itu saya menyadari bahwa sekali saya membenarkan tindakan tidak jujur, maka akan semakin mudah bagi saya untuk mengulanginya.

Situasi lain yang menguji integritas saya adalah ketika teman menawarkan titip absen. Secara logika sederhana, titip absen terlihat seperti pelanggaran kecil yang tidak merugikan siapa pun secara langsung. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, kebiasaan ini mencerminkan sikap tidak bertanggung jawab terhadap kewajiban sebagai mahasiswa. Saya pernah menolak permintaan tersebut meskipun merasa tidak enak, dan dari situ saya belajar bahwa menjaga integritas memang tidak selalu membuat kita nyaman. Ada konsekuensi sosial yang harus diterima, seperti dianggap tidak solidaritas atau terlalu idealis. Namun, saya percaya bahwa rasa tidak nyaman itu jauh lebih baik daripada rasa bersalah karena mengkhianati prinsip sendiri.

Jika integritas di kampus terus diabaikan, dampaknya tidak hanya berhenti pada dunia akademik. Mahasiswa yang terbiasa curang akan membawa pola yang sama ke dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Inilah yang menurut saya menjadi salah satu akar masalah mengapa integritas sulit ditegakkan di masyarakat saat ini. Fenomena korupsi, manipulasi data, hingga penyebaran hoaks sering kali berawal dari sikap tidak jujur yang dianggap wajar sejak dini. Ketika seseorang terbiasa mencari jalan pintas dan menghalalkan cara demi keuntungan pribadi, maka kejujuran akan selalu kalah oleh kepentingan sesaat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, integritas menjadi semakin sulit ditegakkan karena adanya budaya permisif terhadap ketidakjujuran. Korupsi, misalnya, sering kali dianggap sebagai hal yang sudah biasa dan sulit diberantas. Banyak orang tahu bahwa korupsi itu salah, tetapi memilih diam karena merasa tidak memiliki kuasa atau takut terhadap konsekuensi. Hal serupa juga terjadi dalam penyebaran hoaks di media sosial. Informasi yang belum tentu benar dengan mudah dibagikan tanpa verifikasi, hanya demi sensasi atau kepentingan tertentu. Menurut saya, ini menunjukkan krisis integritas di ruang publik, di mana kejujuran dikalahkan oleh kecepatan, popularitas, dan kepentingan kelompok.

Sebagai mahasiswa yang hidup di tengah realitas tersebut, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak ikut larut dalam arus ketidakjujuran. Saya menyadari bahwa menjaga integritas bukanlah perkara mudah, apalagi ketika lingkungan sekitar sering kali memberikan contoh sebaliknya. Namun, justru di situlah nilai integritas diuji. Menjadi jujur saat semua orang jujur memang mudah, tetapi tetap jujur saat banyak orang memilih jalan sebaliknya adalah tantangan sesungguhnya.

Setelah lulus dan terjun ke dunia profesional, saya berkomitmen untuk menjaga integritas melalui langkah-langkah konkret. Pertama, saya akan berusaha bersikap jujur dalam setiap tanggung jawab yang saya emban, baik dalam pekerjaan maupun hubungan sosial. Kedua, saya akan menolak praktik-praktik tidak etis meskipun hal tersebut berpotensi menghambat keuntungan pribadi. Ketiga, saya ingin membiasakan diri untuk bersikap kritis dan berani bersuara ketika melihat ketidakjujuran, setidaknya dalam lingkup yang saya mampu. Saya sadar bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil, dan integritas pribadi adalah fondasi dari perubahan tersebut.

Sebagai penutup, refleksi ini menyadarkan saya bahwa integritas bukan sekadar konsep moral, melainkan pilihan yang harus diambil setiap hari. Kampus menjadi ruang latihan bagi saya untuk membentuk karakter jujur dan bertanggung jawab sebelum menghadapi tantangan yang lebih besar di masyarakat. Dengan menjaga integritas sejak menjadi mahasiswa, saya berharap dapat menjadi bagian dari masyarakat akademis dan profesional yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral. Itulah komitmen pribadi yang ingin saya pegang, sekarang dan di masa depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KELOMPOK 6

TUGAS TERSTRUKTUR 01 : YANICA JEANNURI VIRCANANDA E29

TUGAS MANDIRI : YANICA JEANNURI VIRCANANDA E29